Puisi : Puisi Soe Hok Gie
Ada yang tahu perihal Soe Hok Gie ?yap mungkin sebagian dari kita tidak ada yang tau bahkan saya sendiri tahu gres beberapa tahun yang lalu( pas lihat film nya) jadi Soe Hok Gie Sejujurnya yang menciptakan saya tertarik ialah puisi dari dia ini ,terasa gue banget lah jadi saya pikir perlu menyebarkan dengan siapa saja yang ingin dibagi siapa tahu bermanfaat. Oke berikut ini puisi puisi yang saya tahu . .,
Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Wiraza.
Tapi saya ingin habiskan waktuku disisimu sayangku
Bicara perihal anjing-anjing kita yang badung dan lucu
Atau perihal bunga-bunga yang elok dilembah mandalawangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom didanau
Ada bayi-bayi yang mati lapar dibiavra
Tapi saya ingin mati disisimu manisku.
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu
Mari sini sayangku kalian yang pernah mesra,
Yang pernah baik dan simpati kepadaku
Tegaklah kelangit luas atau awan yang mendung
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita tak akan pernah kehilangan apa-apa
Nasib terbaik ialah tidak pernah dilahirkan
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial ialah berumur tua
Berbahagialah mereka yang mati muda
Makhluk kecil kembalilah dari tiada ketiada
Berbahagialah dalam ketiadaaanmu
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Wiraza.
Tapi saya ingin habiskan waktuku disisimu sayangku
Bicara perihal anjing-anjing kita yang badung dan lucu
Atau perihal bunga-bunga yang elok dilembah mandalawangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom didanau
Ada bayi-bayi yang mati lapar dibiavra
Tapi saya ingin mati disisimu manisku.
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu
Mari sini sayangku kalian yang pernah mesra,
Yang pernah baik dan simpati kepadaku
Tegaklah kelangit luas atau awan yang mendung
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita tak akan pernah kehilangan apa-apa
Nasib terbaik ialah tidak pernah dilahirkan
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial ialah berumur tua
Berbahagialah mereka yang mati muda
Makhluk kecil kembalilah dari tiada ketiada
Berbahagialah dalam ketiadaaanmu
By Soe Hok Gie
PESAN
Hari ini saya lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara perihal kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara perihal kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran
Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi
Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kamu berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kamu berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?
Harian Sinar Harapan 18 Agustus 1973
ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza
tapi saya ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza
tapi saya ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku
bicara perihal anjing-anjing kita yang badung dan lucu
atau perihal bunga-bunga yang elok di lembah mendala wangi
ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
atau perihal bunga-bunga yang elok di lembah mendala wangi
ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
tapi saya ingin mati di sisimu sayangku
sesudah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
perihal tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu
sesudah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
perihal tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu
mari, sini sayangku
kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
tegakklah ke langit atau awan mendung
kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa”
kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
tegakklah ke langit atau awan mendung
kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa”
(Catatan Seorang Demonstran, Selasa, 11 November 1969)
Dan ini dia ,puisi yang saya suka
MANDALAWANGI – PANGRANGO
Senja ini, dikala matahari turun kedalam jurang2mu
saya tiba kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
saya tiba kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
walaupun setiap orang berbicara perihal manfaat dan guna
saya bicara padamu perihal cinta dan keindahan
dan saya terima kamu dalam keberadaanmu
menyerupai kamu terima daku
saya bicara padamu perihal cinta dan keindahan
dan saya terima kamu dalam keberadaanmu
menyerupai kamu terima daku
saya cinta padamu, Pangrango yang cuek dan sepi
sungaimu ialah nyanyian keabadian perihal tiada
hutanmu ialah misteri segala
cintamu dan cintaku ialah kebisuan semesta
sungaimu ialah nyanyian keabadian perihal tiada
hutanmu ialah misteri segala
cintamu dan cintaku ialah kebisuan semesta
malam itu dikala cuek dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau tiba kembali
Dan bicara padaku perihal kehampaan semua
Dan bicara padaku perihal kehampaan semua
“hidup ialah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya “tanpa kita mengerti, tanpa kita dapat menawar
‘terimalah dan hadapilah
‘terimalah dan hadapilah
dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara
saya terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu
saya terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu
saya cinta padamu Pangrango
alasannya ialah saya cinta pada keberanian hidup
alasannya ialah saya cinta pada keberanian hidup
Jakarta 19-7-1966
SEBUAH TANYA
“akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu dikala yang telah usang kita ketahui
apakah kamu masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”
pada suatu hari yang biasa
pada suatu dikala yang telah usang kita ketahui
apakah kamu masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”
(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kamu dan saya tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)
kamu dan saya tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)
“apakah kamu masih membelaiku semesra dahulu
dikala ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”
dikala ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”
(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang bau tanah dan terlena dalam mimpinya. kamu dan saya berbicara. tanpa kata, tanpa bunyi dikala malam yang lembap menyelimuti jakarta kita)
“apakah kamu masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”
kecuali dalam cinta?”
(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. menyerupai kabut pagi itu)
“manisku, saya akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”
Selasa, 1 April 1969
by Soe Hook Gie
by Soe Hook Gie