Berpikir Kritis Dan Kreatif Dalam Pembelajaran Matematika
BERFIKIR KRITIS
Berfikir kritis yaitu cara berfikir yang sanggup memecahkan persoalan secara logis dan sanggup menghasilkan keputusan yang tepat. Dan cara berfikir ini diawali dan diproses oleh otak kiri.
Menurut Webster’s New Encyclopedic All New 1994 Edition “kritis” (critical) yaitu “Using or involving careful judgement” sehingga “berpikir kritis” sanggup diartikan sebagai berpikir yang membutuhkan kecermatan dalam membuat keputusan. Pengertian yang lain diberikan oleh Ennis (1996) yaitu: berpikir kritis merupakan sebuah proses yang bertujuan untuk membuat keputusan yang masuk kebijaksanaan mengenai apa yang kita percayai dan apa yang kita kerjakan
Kemampuan berpikir kritis seseorang dalam suatu bidang studi tidak sanggup terlepas dari pemahamannya terhadap bahan bidang studi tersebut. Maka sesorang harus menguasai bahan minimal 80% supaya sanggup berfikir kritis dalam suatu pelajaran. Namun sebagaimana kita ketahui bahwa matematika bersifat aksiomatik, abstrak, formal, dan deduktif. Karenanya masuk akal jikalau matematika termasuk mata pelajaran yang dianggap sulit oleh siswa pada umumnya yang tahap berpikirnya belum formal dengan talenta serta kemampuannya yang bervariasi.
Masih rendahnya kualitas hasil pembelajaran siswa dalam matematika merupakan indikasi bahwa tujuan yang ditentukan dalam kurikulum matematika belum tercapai secara optimal. Agar tujuan tersebut sanggup tercapai sesuai dengan yang diinginkan, salah satu caranya yaitu dengan melakukan proses pembelajaran yang berkualitas.
Berpikir kritis berkaitan erat dengan argumen, sebab argumen sendiri yaitu serangkaian pernyataan yang mengandung pernyataan penarikan kesimpulan. Seperti diketahui kesimpulan biasanya ditarik berdasarkan pernyataan-pernyataan yang diberikan sebelumnya atau yang disebut premis. Dalam argumen yang valid sebuah kesimpulan harus ditarik secara logis dari premis-premis yang ada.
Hal ini sesuai dengan pendapat Ennis (1996) berpikir kritis yaitu suatu proses, sedangkan tujuannya yaitu membuat keputusan yang masuk kebijaksanaan wacana apa yang diyakini atau dilakukan. Berpikir kritis yaitu berpikir pada tingkat yang lebih tinggi, sebab pada dikala mengambil keputusan atau menarik kesimpulan merupakan control aktif yaitu reasonable, reflective, responsible, dan skillful thinking. secara singkatnya menyatakan bahwa terdapat lima unsur dasar dalam berpikir kritis, yaitu:
1. Fokus (focus). Langkah awal dari berpikir kritis yaitu mengidentifikasi persoalan dengan baik. Permasalahan yang menjadi fokus bisa terdapat dalam kesimpulan sebuah argumen.
2. Alasan (reason). Apakah alasan-alasan yang diberikan logis atau tidak untuk disimpulkan ibarat yang tercantum dalam fokus.
3. Kesimpulan (inference). Jika alasannya tepat, apakah alasan itu cukup untuk hingga pada kesimpulan yang diberikan?
4. Situasi (situation). Mencocokkan dengan situasi yang sebenarnya.
5. Kejelasan (clarity). Harus ada kejelasan mengenai istilah-istilah yang digunakan dalam argumen tersebut sehingga tidak terjadi kesalahan dalam membuat kesimpulan..
Contoh so’al berfikir kritis:
Seorang anak dihadapkan pada soal sebagai berikut
apakah 1728 merupakan suatu bilangan pangkat 3 ? jelaskan! Anak tersebut menjawab ya, sebab 1000= 103 maka akar pangkat 3 dari 1728 yaitu bilangan yang lebih besar dri 10. Karena n bilangan terakhirnya 8 dan akar pangkat tiga dari 8 andalah 2, maka akar pangkat 3 dari 1728 yaitu 10 +2 = 12. Benarkah langkah-langkah penyelesaian
yang digunakan anak tersebut?
Dalam soal tersebut siswa dibutuhkan memakai kemampuan pikiran sehat matematiknya untuk menganalisis kemungkinan-kemungkinan yang sanggup muncul dari perpangkatan suatu bilangan diatas. Maka membuatkan berfikir kritis pada sisiwa sangatlah penting supaya sisiwa bisa memecahkan persoalan baik dalam pelajaran maupun dalam kehidupan sahari-hari di masyarakat.
BERPIKIR KREATIF
Berfikir kreatif yaitu cara berfikir siswa yang sanggup menghasilkan ide-ide gres atau membuatkan sesuatu menjadi lebih baik lagi.Jika kemampuan berpikir kritis dikembangkan oleh otak kiri, maka kemampuan berpikir yang dikembangkan oleh otak kanan yaitu kemampuan berpikir kreatif.
Kemampuan berpikir kreatif juga berkenaan dengan kemampuan seseorang mengajukan ide-ide dan melihat hubungan yang baru. Musbikin (2006) mengartikan kreativitas sebagai kemampuan memulai ide, melihat hubungan yang gres atau tak diduga sebelumnya, kemampuan memformulasikan konsep yang tak sekedar menghafal, membuat balasan gres untuk soal-soal yang sudah ada dan mendapat pertanyaan gres yang perlu dijawab.
Perkins (Hassoubah, 2004: 55) menyatakan bahwa berpikir kreatif itu melibatkan banyak komponen yaitu :
1. Berpikir kreatif melibatkan sisi estetik dan standar praktis. artinya kreativitas bukan saja berhubnungan dengan inovasi yang elok dan menarik tetapi lebih banyak bekerjasama dengan inovasi yang mengatakan penerapan
2. Berpikir kreatif bergantung pada besarnya perhatian terhadap tujuan dan hasil
3. Berpikir kreatif lebih banyak bergantung pada mobilitas daripada kelancaran
4. Berpikir kritis tidak hanya objektif tetapi juga subjektif. Kita tidak bisa terpaku pada satu hal sebab kaku dan terobsesi dengan objektivitas, adakala perlu bersikap subjektif dan memperhatikan pendapat berdasarkan perasaan
5. Bepikir kreatif lebih banyak bergantung kepada motivasi intrinsic daripada ekstrinsik
Kemampuan berpikir kreatif sanggup diukur dengan indicator-indikator yangb telah ditentukan oleh para ahli, salah satunya berdasarkan guilford.
1. Berpikir kreatif melibatkan sisi estetik dan standar praktis. artinya kreativitas bukan saja berhubnungan dengan inovasi yang elok dan menarik tetapi lebih banyak bekerjasama dengan inovasi yang mengatakan penerapan
2. Berpikir kreatif bergantung pada besarnya perhatian terhadap tujuan dan hasil
3. Berpikir kreatif lebih banyak bergantung pada mobilitas daripada kelancaran
4. Berpikir kritis tidak hanya objektif tetapi juga subjektif. Kita tidak bisa terpaku pada satu hal sebab kaku dan terobsesi dengan objektivitas, adakala perlu bersikap subjektif dan memperhatikan pendapat berdasarkan perasaan
5. Bepikir kreatif lebih banyak bergantung kepada motivasi intrinsic daripada ekstrinsik
Kemampuan berpikir kreatif sanggup diukur dengan indicator-indikator yangb telah ditentukan oleh para ahli, salah satunya berdasarkan guilford.
Adapun berdasarkan Guilford (Starko, 1991) indicator dari berpikir kreatif ada lima yaitu:
a. Kepekaan (problem sensitivity) yaitu kemampuan mendeteksi (mengenali dan memahami) serta menanggapi suatu pernyataan, situasi atau masalah
b. Kelancaran (fluency) yaitu kemampuan untuk menghasilkan banyak gagasan
c. Keluwesan (flexibility) yaitu kemampuan untuk mengemukakan bermacam-macam, pemecahan atau pendekatan terhadap masalah
d. Keaslian (originality) yaitu kemampuan untuk mencetuskan gagasan dengan cara-cara yang asli, tidak klise dan jarang diberikan kebanyakan orang
e. Elaborasi (elaboration) yaitu kemampuan menambah situasi atau persoalan sehingga menjadi lengkap, dan merincinya secara detail, yang didalamnya sanggup berupa table, grafik, gambar, model, dan kata-kata.
a. Kepekaan (problem sensitivity) yaitu kemampuan mendeteksi (mengenali dan memahami) serta menanggapi suatu pernyataan, situasi atau masalah
b. Kelancaran (fluency) yaitu kemampuan untuk menghasilkan banyak gagasan
c. Keluwesan (flexibility) yaitu kemampuan untuk mengemukakan bermacam-macam, pemecahan atau pendekatan terhadap masalah
d. Keaslian (originality) yaitu kemampuan untuk mencetuskan gagasan dengan cara-cara yang asli, tidak klise dan jarang diberikan kebanyakan orang
e. Elaborasi (elaboration) yaitu kemampuan menambah situasi atau persoalan sehingga menjadi lengkap, dan merincinya secara detail, yang didalamnya sanggup berupa table, grafik, gambar, model, dan kata-kata.
Soal bepikir kreatif :
Misalkan kita memiliki sebuah dosis yang sanggup terisi penuh 70 ml air, dan sebuah dosis yang sanggup terisi penuh 80 ml air. Kedua dosis tersebut tidak menunjukkan batas-batas ml yang jelas. Bagaimana kita sanggup membuat dosis yang terisi penuh 90 ml air dengan hanya memakai kedua dosis yang ada?
Pada soal diatas, siswa dituntut untu menghasilkan ide-ide dalam membuat dosis yang terisi penuh 90 ml air, dengan hanya memakai dosis yang hanya terisi penuh 70 ml air dan 80 ml air. Untuk memperjelas idenya siswa sanggup merepresentasikannya dengan gambar atau symbol-simbol lainnya. Kreativitas siswa sanggup dilihat dari keaslian, kelancaran, kelenturan dan keterperinciaanya dalam membuat dosis yang sanggup terisi penuh 90 ml.
Artikel Berpikir Kritis dan Kreatif dalam Pembelajaran Matematika didapat dari Makalah teman dengan judul yang sama Berpikir Kritis dan Kreatif dalam Pembelajaran Matematika.