Skip to main content

Macam Macam Peninggalan Sejarah

Candi Borobudur

Borobudur dibangun sekitar tahun 800 Masehi atau era ke-9. Candi Borobudur dibangun oleh para penganut agama Buddha Mahayana pada masa pemerintahan Wangsa Syailendra. Di kitab Nagarakretagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365. Tertulis bahwa candi ini dipakai sebagai tempat meditasi penganut Buddha.

Seni bangunan tampak pada bangunan candi sebagai wujud percampuran antara seni orisinil bangsa Indonesia dengan seni Hindu-Budha. Candi merupakan bentuk perwujudan akulturasi budaya bangsa Indonesia dengan India. Candi merupakan hasil bangunan zaman megalitikum yaitu bangunan punden berundak-undak yang menerima efek Hindu Budha. Contohnya candi Borobudur. Pada candi disertai pula aneka macam macam benda yang ikut dikubur yang disebut bekal kubur sehingga candi juga berfungsi sebagai makam bukan semata-mata sebagai rumah dewa.

 Keraton Kasepuhan Cirebon

          Keraton Kasepuhan yang terletak di Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon merupakan keraton yang pertama kali didirikan sekitar era ke 13. Sebagai sentra pemerintahan Kesultanan Cirebon pada masa itu.Memasuki jalan kompleks Keraton di sebelah kiri terdapat bangunan yang cukup tinggi dengan tembok bata kokoh disekelilingnya. Bangunan ini berjulukan Siti Inggil atau dalam bahasa Cirebon sehari-harinya ialah lemah duwur yaitu tanah yang tinggi. Tembok bab utara kompleks Siti Inggil terdapat piring-piring dan porslen-porslen yang berasal dari Eropa dan negeri Cina. Bangunan ini termasuk budaya hindu masuk ke Indonesia alasannya ialah Dibawah Gapura Banteng ini terdapat Candra Sakala dengan goresan pena Kuta Bata Tinata Banteng yang kalau diartikan ialah tahun 1451.


Keraton Kanoman Cirebon

          Keraton Kanoman merupakan sentra peradaban Kesultanan di Cirebon. Kebesaran Islam di Jawa Barat tidak lepas dari Cirebon, Sunan Gunung Jati ialah orang yang bertanggung Jawab membuatkan Islam di Jawa Barat, sehingga berbicara tentag Cirebon tidak akan lepas dari sosok Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Keraton Kanoman masih taat memegang adat istiadat atau tradisi.

Keraton Kanoman merupakan kompleks yang luas, yang terdiri dari dua puluh tujuh bangunan kuno. Salah satunya saung yang berjulukan bangsal witana yang merupakan cikal bakal Keraton yang luasnya hampir lima kali lapangan sepak bola.

Di halamannya ada patung macan sebagai lambang Prabu Siliwangi. Di depan keraton selalu ada alun alun untuk rakyat berkumpul dan pasar sebagai sentra perekonomian, di sebelah timur keraton selalu ada masjid. Keraton ini betul peninggalan islam,tetapi adat yang masih menempel semenjak dari zaman dahulu dengan efek budaya hindu-buddha yang masuk ke Indonesia.


Masjid Agung Demak

          Masjid yang terletak di kabupaten Demak, Propinsi Jawa Tengah ini pada awalnya disebut masjid Glagahwangi, didirikan oleh wali songo bersama santrinya termasuk didalamnya ialah Raden jimbu/ Raden Patah.

Struktur utama masjid simbol dari tegaknya pemikiran Islam yang dibawa oleh para wali. Sebagian besar banngunan terbuat dari kayu jati berukuran besar-besar, sedangkan dinding dari pasangan kerikil bata, namun sudah mengalami banyak perbaikan, dan diberi hiasan dan lambang-lambang mirip Bulus di pangimaman, Surya majapahit, Akar Mimang sebagai lambang Goib, Piringan Porselen Putri Campa, dan lain-lain.piringan porselen yang berasal dari china ,bangunan budaya hindu yang masuk ke Indonesia.

Masjid Tradisional

☼ Atapnya berupa Meru disebut atap tumpang berasal dari ijuk/rumbia dengan jumlah ganjil (tiga atau lima).Tingkatan paling atas berbentuk LIMAS

☼ Terdapat Mihrab (tempat imam memimpin shalat)

☼ Contoh : Masjid Demak, Masjid Kudus


Taman Sari Yogyakarta

          Pada mulanya Tamansari ialah taman air yang indah dan menawan yang kadang disebut juga sebagai Segaran (dalam bahasa Jawa berarti bahari buatan). Dan terdapat pula jembatan gantung, bangunan yang dulu terhubung dengan jembatan gantung masih sanggup dilihat.

Pada bab dalam taman ini selain terdapat transportasi air terdapat juga jalan bawah tanah atau terowongan dari Kraton Yogyakarta yang menuju salah satu bangunan di taman yang disebut Pasarean Ledoksari, yakni tempat peraduan dan tempat langsung sultan.

 Masjid Cheng Hoo Surabaya

          Masjid Cheng Hoo Surabaya ialah Masjid bernuansa Muslim Tionghoa yang berlokasi di jalan Gading, Ketabang, Genteng, Surabaya atau 1.000 m utara Gedung Balaikota Surabaya. Masjid didirikan atas prakarsa para sespuh, penaseha, pengurus PITI (Pembina Iman Tauhid Islam), dan pengurus Yayasan Haji.

Bangunan ini mirip kelenteng (rumah ibadah umat Tri Dharma), masjid ini didominasi warna merah, hijau, dan kuning. Ornamennya kental nuansa Tiongkok lama, dan pintu masuknya pun mirip bentuk pagoda, terdapat juga relief naga dan patung singa dari lilin dengan lafaz Allah dalam abjad Arab di puncak pagoda.

Masjid yang terdapat di surabaya ini sangat terang dari segi bangunan terpengaruh budaya buddha yaitu mirip kelenteng, fungsi kelenteng ialah tempat beribadah agama buddha.

Candi Prambanan

          Candi Prambanan merupakan candi Hindu terbesar di Indonesia, berketinggian 47 meter, dibangun pada era 9. Letaknya berada 17 km arah timur Yogyakarta di tepi jalan raya menuju Solo.

Candi Prambanan dibangun oleh Raja-raja Wamca (Dinasty) Sanjaya pada era ke-9. Candi Prambanan merupakan kompleks percandian dengan candi induk menghadap ke timur, dengan bentuk secara keseluruhan mirip gunungan pada wayang kulit setinggi 47 meter.

Pada periode ini, unsur Hindu-Budha lebih besar lengan berkuasa dan lebih terasa serta menonjol sedang unsur/ ciri-ciri kebudayaan Indonesia terdesak. Terlihat dengan banyak ditemukannya patung-patung tuhan Brahma, Wisnu, Siwa, dan Budha di kerajaan-kerajaan mirip Kutai, Tarumanegara dan Mataram Kuno.

 Keraton Sumenep Madura

          Bangunan megah berdiri nuansa yang khas menyiratkan peninggalan masa silam. Berdiri di daerah seluas 12 hektar, di tengahnya terdapat Pendopo Agung dengan ornamen khas berlatar bangunan renta yang tak kalah gagah memancarkan kharisma.

Secara umum gaya arsitektur Keraton Sumenep merupakan perpaduan antara gaya arsitektur Eropa, Arab, dan China. Gaya Eropa tampak pada pilar-pilar dan lengkuk ornamennya. Sedangkan gaya China sanggup dilihat pada ukiran-ukiran yang menghiasi dan bahkan konon yang mengepalai tukang ketika pembanngunan keraton ialah orang China yang berjulukan Ka Seng An. Nama itu dijadikan nama desa dimana ia tinggal, menjadi desa Kasengan. Hasil perpaduan budaya luar yang masuk ke Indonesia.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar